The Three Reasons Why I Am a Workaholic

27 Des

            Workaholic is a common term for a person who is really serious in doing his/her jobs. He/she carries out his/her jobs seriously and thinks it deeply so that the other people may think as if all of his/her life has been devoted for jobs. One of my friends ever called me as a workaholic. Once I realize that yes I am a workaholic but I actually refuse to be called as a full workaholic. In the fact, I do work hard for my duties but still I also do many interesting things and I don’t get trapped in the cumbersome atmosphere. Whatever people may judge me, I have my own reasons why I work hard in my life. There are three reasons why I am a workaholic.

            First, in my point of view working hard is like an exercise. You may wonder why I say it likes that; you may also raise your eyebrows and think deeply why it is so. The answer is because when you do exercise, you may feel more relaxed, happier and finally feel healthier. It does work the same for me. By working hard I feel like training myself to finish every single duty I have with my best effort and in the end when I can achieve a good result I feel satisfied. Besides, by working hard I also train myself how to be well-prepared to face the unpredictable things for the future.  Because I never know what the future will be, there is no guarantee for the future to always treat me well. Working hard is an exercise for me because I can be accustomed to deal with every unpredictable thing in my life. 

            Second reason why I am a workaholic is because I want to be an independent person. Every second, every minute, every day I am growing up and I turn to be an adult. An adult means that I should be mature enough to take care of my own life. When I become an adult, I will find a phase when it isn’t appropriate for me to always ask my parents or my other knights, I mean saviors like brothers, sisters, siblings and others, for help. On the contrary, an adult means that I should not always be the one who can only ask them for help but I also should be the one who can give them my hand. That is why I work hard. I need to teach myself how to survive without relying on someone’s life, at least until I have really tried my best or until I really have to give up.

            The last reason and could be the most frank reason why I am a workaholic is because of the prices. Yes, this is because of prices. Why? What is wrong with prices? You may think that this reason sounds so frank. But this is the fact. Nowadays, prices are getting more expensive that every person has to work very hard to afford every single daily need in their life. In these recent days, the rules have changed. Now the winners are not those who only wait for the miracle to come, but the winners are those who make efforts, who chase and grip that miracle. It means that I cannot stay calmly without doing anything. I should give my best to compete with so many people out there who also give their best to find the miracle. Because the competition now has become stricter, the criterion for the winners also has changed. The winners now are those who work passionately and sincerely to result best outputs without hurting anybody else and I want to be one of them. Finally, to gain these recent prices, I need to pay more and that is by working hard.

            I realize that working hard plays a big role in these days, but it doesn’t mean that by working hard I will let myself drown with so many jobs to do and forget my family, my friendship or the other relationships. I work hard because I have reasons to do so. I enjoy being a workaholic with so many colorful lives without ruining my life only to concern about jobs. However on the top of that you should remember that working hard is still a must.

Thomas Mueller yang Nyaris Terbuang

25 Apr

Mueller, Raumdeuter yang Nyaris Terbuang.

Yah, tulisan di atas adalah  salah satu judul artikel pada kolom olahraga di koran SM (Suara Merdeka) edisi Kamis, 25 April 2013. Bagi penggemar sepak bola pastinya beberapa hari ini lagi aktif membicarakan kekalahan Barca (Barcelona) dari lawannya Bayern Munich dengan skor 4 untuk Bayern Munich dan 0 untuk Barca. Huwaa.. pasti lagi ada momen yang kecewa, sedih banget tapi juga ada momen yang lagi jingkrak-jingkrak hehe. Nah, sebaiknya aku nggak perlu terlalu banyak ya mengulas berita yang satu ini takutnya nanti ada pihak yang merasa sedih atau malah jadi tambah galau :)   toh pada posting kali ini aku nggak sedang berfokus tentang sepak bola. Thaaraaaa… di posting kali ini aku pengen sharing tentang kegalauanku ketika merasa “terbuang atau nyaris terbuang” ooouccchh… nggak enak banget ya.. :(

Nah.. terus apa hubungannya sama “Mueller, Raumdeuter yang Nyaris Terbuang”? Jelas ada dong hubungannya, hehe.. tapi sebenarnya aku yang menghubungkannya, karena momen dimana artikel tentang Thomas Mueller di koran SM ini dimuat memang tepat sama apa yang lagi ada di pemikiranku. Jadi gini looo…

Di kolom olahraga koran SM kali ini terdapat artikel tentang Thomas Mueller, yang selain sebagai hero-nya Bayern Munich juga merupakan salah satu pemain TimNas Jerman dan dari dulu waktu aku masih unyu-unyu aku udah jadi fans berat TimNas Jerman dan selalu di tiap momen World Cup aku setia jadi suporter histerisnya Jerman… :) Di momen pertandingan Bayern Munich kontra Barca kemarin pada hari Rabu, 24 April 2013,  Mueller menjadi salah satu hero-nya Bayern, dari 4 gol yang berhasil diloloskan ke gawang Barca, 2 gol adalah gol milik Mueller dan dia juga memberikan assist terhadap terciptanya gol lain. Pastinya dengan prestasi seperti itu kita tahu bahwa Mueller adalah pemain yang hebat dan patut dipertimbangkan.

Tapi nih ya seringnya kita melihat seseorang adalah ketika seseorang, entah siapapun itu (datang dengan latar belakang sebagai apapun, entah pesepak bola, aktor, dll) yang nampak atau biasa kita lihat pada umumnya adalah cerita ketika seseorang itu sudah pada titik keberhasilan, kita jarang (meskipun tak berarti sama sekali tidak) dari kita yang juga tahu atau paham kisah di balik jalan terjal menuju titik keberhasilan itu.

Begitu pula dengan yang dialami oleh Thomas Mueller, sebelum ia bisa memberikan assist yang maksimal untuk timnya, ia pernah nyaris putus asa dan merengek meminta dipinjamkan atau ditransfer dari Bayern karena terlalu sering menghuni bangku cadangan (SM, 25 April 2013). Nah, betapa menyakitkan terkadang ketika kita hanya atau barulah diperhitungkan sebagai “cadangan” dan belum dipertimbangkan memiliki kemampuan yang layak untuk dijadikan sebagai pemain utama. Oke, aku kelarkan dulu cerita tentang Mueller ya.. Namun, ternyata pelatih Bayern Munich yaitu Van Gaal mengubah Mueller menjadi pemain reguler pada musim 2009-2010. Mueller mengakui bahwa Van Gaal adalah penyelamat kariernya, dan ia merespon kepercayaan itu dengan 13 gol pada musim pertama termasuk hattrick ke gawang VfL Bochum yang memberi Munich titel Bundesliga. Sejak saat itulah Mueller adalah pilihan utama. (SM, 25 April 2013).

Salah satu kutipan dari perkataan Mueller yang menjadikan aku terinspirasi lalu bergegas duduk di depan komputer dan siap untuk menyusun kalimat-kalimat ini, adalah kutipannya sebagai berikut : “Tentu saja saya ingin bermain seperti Lionel Messi, tapi saya tahu saya tidak bisa. Saya harus menemukan cara sendiri untuk sukses,” kata Mueller. Dari artikel ini aku jadi terinspirasi bahwa ternyata tidak hanya aku aja yang terkadang merasakan pahitnya rasa “terbuang atau nyaris terbuang”. Orang yang memiliki nama seperti Thomas Mueller ternyata juga pernah merasakan hal yang sama. Benar apa yang dikatakan Mueller di kutipannya, kita cenderung ingin menjadi orang lain padahal setiap dari kita pasti mempunyai potensi untuk terus diasah, nah kita memang tak harus menyamai apa yang dicapai orang lain oke kalau itu menginspirasi tetapi yang perlu kita lakukan yaitu  menghasilkan karya dengan karakter dan gaya kita, bahwa ini lo “aku” dan semua caraku.

Nah, kalau berbicara tentang rasanya nyaris terbuang… aku sendiri pernah menemui beberapa momen, dimana aku berpikir “Wah.. aku akan berusaha keras untuk menjadikan diriku ini memang layak untuk diberi kepercayaan atau tanggung jawab untuk melakukan sesuatu atau mendapatkan sesuatu”. Namun ternyata dari keyakinan dan usaha kerjaku selama ini, atau dari apa yang kita usahakan, hasilnya masih belum sesuai dengan harapan padahal kita merasa bahwa kita udah berusaha dan mencoba sebaik mungkin. Atau momen seperti ketika kita berpikir kita memiliki kemampuan namun belum juga dipercaya, tentu tak dipungkiri ketika mendapati momen seperti itu kita akan merasa kecewa, hal yang wajar. Mungkin dalam beberapa kurun waktu kita merasa tenggelam dalam kekecewaan, tapi lalu kita memutuskan untuk tidak berhenti dan mencoba lagi. Atau perasaan lain ketika merasa terbuang, ketika orang lain tak menganggap keberadaan kita atau menghargai karya kita, di saat seperti itu pula kita merasa nyaris terbuang. Hal yang tak mengenakkan memang.

Tapi, kalau hanya terus merasa putus asa dan terus tenggelam apa akan membuat orang lain serta merta menghargai karya kita dan menganggap kita layak dan patut dipertimbangkan? Nggak, malahan hanya membuat kita semakin jadi makhluk aneh karena kerjanya hanya galau dan murung… hehehe. Nah, jadi ingat sama postingan status facebook-ku waktu ngerasa galau dengan keadaan ini, oke aku imbuhkan ya siapa tahu bisa menjadi inspirasi, ini ni “Being useless is something that hurts our pride, moreover when someone neglects our presence. We will be frantic and try everything to yield something useful. But our concern is whether we are lying to ourselves or not! It’s painful, isn’t it?Jadi menurutku menjadi gak berguna itu bajak melukai semacam harga diri kita apalagi kalo seseorang mengabaikan keberadaan kita. Kita bakal jadi bingung dan berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang berguna tapi masalahnya apakah kita lagi bohong sama diri kita atau nggak. Kurang lebih gitu. Trus tuing tuing tuing …. mencoba untuk bermeditasi dan mencari ide yang mendinginkan hati dan kepala, trus ini ni hasilnya :

Waktu kita merasa terbuang, merasa karya kita belum juga dianggap waktu merasa kita belum bisa bermanfaat lebih, mungkin kita patut melakukan introspeksi diri lagi dan belajar untuk berpositif thinking, ya.. bisa saja memang dari karya atau skill, kita masih perlu ditingkatkan karena memang banyak orang-orang di luar sana yang belum pernah kita tau ternyata memiliki kemampuan jauuuuh di atas kita jadi kita disuruh belajar lagi biar kita semakin tahu dan semakin matang juga, atau mungkin karya kita sudah oke lah nggak ada masalah dan perfect lah ya.. tapi bisa saja dari segi kesiapan mental dan hati untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar ternyata kita belum siap, Tuhan tu Maha Tahu guys.. mungkin Tuhan lagi menyelamatkan kita dari terperosok rasa sombong atau pongah, atau takut kita jadi lalai kalau langsung diberi kemenangan, jadi keberhasilan kita masih ditunda dengan ujian-ujian lainnya lagi biar kita tambah tegar dan lebih tau arti kerja keras, kejujuran serta kesabaran. Nah, itulah yang muncul di benakku, untuk menenangkan dan menghadjarrr diriku sendiri. 

Oke semoga bisa bermanfaat ya buat aku juga dan buat temen-temen semuanya. Oya.. jadi ingat, di judul artikel ada kata “Mueller, Raumdeuter yang nyaris terbuang” pasti ada yang penasaran ya, apaan si apaan si hehe… Oke buat yang jago bahasa Jerman mungkin ndak ada masalah ya, nah untuk yang belum tau tak kasih bocoran ya.. jadi Raumdeuter itu artinya “Juru Ruang”.. nah itu adalah julukan yang diberikan oleh media Jerman untuk Mueller karena dia memiliki teknik sepak bola dengan pemahaman ruang yang sangat baik, ia mampu muncul di sayap kiri, kanan, dan area penalti, untuk menciptakan kekacauan di pertahanan lawan. (SM, 25 April 2013)

Oke, jadi sudah terbongkar ya tentang posting ku kali ini tentang apa si hubungannya sama Thomas Mueller, moga kita jadi tambah semangat dan tambah cadangan energi untuk terus berusaha. Makasih sudah mampir, mau komen tentu diperbolehkan siapa tahu bisa kasih inspirasi buat aku.. :)

Terima kasih,

Hujan

22 Mar

Hujan 13.34
Hujan di pukul 13.34 waktu ku ini mengalir dengan sangat wajar, bahkan sangat lembut dan tanpa kekerasan. Bukan jadi sesuatu yang menyebalkan, malah kudambakan. Kau tau, rasanya sayang jika harus ku lewatkan hujan di waktu ini, percikan air yang menimpa dan menyongsong keringnya dataran itu justru menjadi pemandangan yang indah, lihat… dia bahkan seperti perasaan kita yang sedang melompat2 tanpa ada titik pemberhentian, mungkin hanya lelah dan puas yang akan memaksanya berhenti.

Suaranya pun tak ada yang ganjil, justru hujan yang sedang berkawan dengan hembusan angin yang sederhana ini sangat indah pula… dengar… ia mampu menjadi musik yang mungkin selama ini tak terpikirkan oleh seorang lain.. justru menjadi musik yang menghiburku! Jujur aku sedang butuh penghibur dan pemandu sorak yang bisa meriuhkan isi di hati ku yang melompong.. bukan karna apa-apa, tapi karena dimensi ruang, waktu dan massa saja yang sedang tak berpihak padaku… 
Hari ini semangat sedang tak berkawan padaku, malah justru sendu yang sedang memaksa bergelayut di kedua kakiku, seakan mengatakan ia tak mau enyah! Oh.. tentu aku sangat mengharapkan ia enyah.. aku muak dengan teriakannya yang sama sekali tak menghiburku..
Oh.. lagi-lagi hujan ini semakin riuh.. kini ia sedikit tumbuh dengan frontal dan agak radikal.. tak suka dengan bagian yang ini… alih-alih menjadi temanku seperti tadi ketika ia memulai, ia malah lebih memilih berjabat tangan dengan suara yang menggelagar.. iya.. petir!!
Padahal aku baru saja memuji ketenanganmu tapi kau malah menggeliat dan memilih bangkit dan mengkudeta ideku.. sungguh, kau tak pernah bisa ditebak.. itulah bagian yang kubenci dari skenario ini… ku kira saja kau bisa menjadi kawanku yang bersedia mengiringi aliran elektrik di pikiranku.. ku kira kau mau terus membunyikan alunan mu yang damai itu… tapi karna takdirmu untuk menjadi seperti itu sudahlah.. aku berhenti.. aku berhenti karna aku menyadari… kau tak mau kepeluk, dan mungkin ada baiknya juga, untukku yang seperti ini memelukmu itu hanya membuatku basah… mungkin ujung ceritanya pun berbeda… 
Sudah… ku tunggu lain waktu saja di spot yang berbeda, jika hari ini di spot 13.34 mungkin lain waktu kita bisa berjumpa di spot indah lain di kala aku menantikan riuh rendah tepuk tanganmu di kala hatiku sedang melompong…. sekarang aku sudah merasa lebih baik… dan kau sedang di ujung kelakarmu dengan teman-temanmu itu.. lain waktu lebih baik kita berjumpa lagi….. aku baik baik saja dengan ini.. aku yakin… hujan di titik 13.34 !!

Madre

15 Jan

Perahu Kertas dan Dewi Lestari atau Dee, uhm…. Sudah bukan kata yang asing lagi di telinga kita, novel yang baru aja dibuat versi filmnya oleh sutradara kawakan Hanung Bramantyo itu laris manis ditonton masyarakat. Dewi Lestari sendiri sudah menghasilkan berbagai karya tulisan best seller, nah beranjak dari film Perahu Kertas yang membuat aku penasaran dan setelah nonton film ini ternyata filmnya bagus, remaja banget dan ceritanya yang menurutku nggak ngebosenin, dunia Kugy dan Keenan yang terkesan tidak “wajar” untuk orang kebanyakan, tapi menurutku manis. Nah, kebetulan libur semester udah tiba dan aku memang lagi pengen banget buat refreshing dan nyobain hal baru yang jarang aku lakuin, seperti biasa kalo libur semester aku suka nontonin film atau drama korea, yaps buatku nonton film itu bukan cuma sekedar hiburan tetapi bisa dapat inspirasi dari cerita-ceritanya, aku suka berimajinasi dan jadi kaya punya dunia sendiri tapi aku masih normal kok (ngekek )

Nah, untuk libur semester-semester yang lalu aku isi dengan nonton film atau drama korea aja, dan juga kerja tentunya. Nah untuk libur semester kali ini aku udah bertekad dan siap untuk nyobain hobi baru, ttttarrraaaa.. apa itu?

Yap, aku pengen baca novel atau buku apa aja deh ga harus novel aku lagi punya misi untuk meningkatkan porsi membaca biar pengetahuannya lebih luas dan dapat inspirasi baru. Selama ini aku baru baca koran setiap harinya atau dari artikel-artikel di web. Memang pernah si dulu baca novel kaya karya Dan Brown yang berjudul “The Deception Point” yang pernah aku tulis di paling awal posting blog ku ini, atau aku merampungkan novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi juga.

Tapi setelah sibuk berjibaku dengan kegiatan kuliah, kerja dan kegiatan lain belum sempat lagi untuk merampungkan novel, alasan lain si karena nggak betah begadang hahaha…

Nah, untuk libur kali ini aku pengen ngisi waktu yang lumayan bisa longgar ini untuk membaca, daripada galau ga jelas kan ya hahaha…

Uhm.. sebenarnya si ya aku punya beberapa koleksi di lepi novel berupa e-book atau PDF tapi sayang matanya untuk membaca begitu, harus sedia kopi terus dong dan kebanyakan kopi juga ndak baik buat kesehatan J

Dan, kembali ke novel… setelah jatuh hati sama film Perahu Kertas jadi penasaran dengan karya Dee, makanya langsung aku sempetin tancap gas ke peminjaman buku dan aku pinjem deh karya Dee yang lain dan rekomendasi dari mbak tukang buku hihi.. Supernova cukup banyak dibaca, tapi akhirnya aku pinjam buku Dee yang berjudul “MADRE”, alasan pertama si karena tipis, haha… buat pemula dan karena juga waktu buat aku baca ga banyak dan waktu peminjaman Cuma 2 hari jadi sayang kalau ga selesai.

Dan aku antusias banget baca novelnya, ternyata buku itu adalah kumpulan cerita jadi di dalamnya ada beberapa judul cerita, yang paling aku suka adalah Madre dan Mengejar Layang-Layang.

Cerita Madre tentang seorang laki-laki bernama Tansen yang mendapatkan warisan sebuah Toko Roti dan juga sebuah biang yang sudah dianggap sakral bagaikan makhluk hidup dan biang yang sudah berusia sekitar 70 tahun, Tansen diharapkan menjadi penerus sejarah toko Roti Tan De Bakery yang tertidur sedangkan Tansen sendiri sama sekali tak memiliki background dunia bakery dia hidup sebagai freelance dan dalam sekejap kisah hidupnya berubah, dari usaha mengambangkan toko roti hingga menemukan peri kecilnya bernama Mei. Madre itu apa sii?? Ternyata madre itu berasal dari bahasa Spanyol yang bermakna “Ibu”, bener-bener ya kalo penulis itu selalu punya ide-ide yang ga kepikir sama orang biasa.

Cerita favoritku yang kedua adalah “Mengejar Layang-layang”, kisah ini tentang pertemanan cowok cewek, Christian dan Starla yang sangat bertolak belakang tapi justru dari perbedaan menjadi persahabatan, intinya Strala selalu bergonta-ganti pasangan tetapi ia akhirnya lelah dan menambatkan hati pada Christian sahabatnya yang tak bisa spontan, ia ingin memiliki cinta namun takut jatuh cinta, kisahnya manis banget ….. 

Novel Madre ini cukup menginspirasi buat aku, dengan kisah-kisahnya, hanya memang tak semua cerita di dalamnya aku suka tapi ambil saja positifnya. Oke setelah ini aku masih ingin merampungkan misiku untuk membaca sebanyak mungkin, daripada harus duduk sepanjang hari tanpa inspirasi yang berbeda, hanya menunggu benda di depanku berupa lepi dan ditemani segelas kopi, ga asyik.. Okay, buat sekarang itu aja sharing ku, dan buat yang lagi liburan semester happy holiday aja yaaaaa, have a nice holiday 

Guru dan UKG (Uji Kompetensi Guru)

18 Des

Kali ini saya ingin mengomentari atau lebih tepatnya menyampaikan pendapat saya tentang UKG (Uji Kompetensi Guru) yang baru saja dilaksanakan dan mendapatkan banyak perhatian masyarakat. Posting saya kali ini adalah pendapat saya tentang UKG dan ini adalah menurut pandangan saya, semoga ada nilai positif yang dapat diambil. Menurut saya UKG atau Uji Kompetensi Guru adalah suatu program yang baik dan memang dibutuhkan bagi dunia pendidikan di Indonesia (saat ini) yang masih harus terus ditingkatkan. Tentu untuk mencapai tujuan kemajuan pendidikan sesuai yang diharapkan,  maka ada komponen-komponen yang harus terus dipantau dan ditingkatkan. Nah tidak hanya dari segi objek pendidikan yaitu siswa ataupun kurikulum saja yang terus menerus dikaji atau difokuskan untuk ditingkatkan. Dari segi pendidik atau pengajar pun juga sangat penting untuk diadakan evaluasi, pengkajian dan juga proses peningkatan. 

Tidak dipungkiri bahwa di dunia pendidikan kita masih ditemui pendidik atau guru dengan kualitas dan kinerja belum sesuai standar atau harapan bersama. Perlu kita ingat kembali bahwa guru adalah ujung tombak yang akan membuat merah putih atau hitamnya generasi muda di masa depan. Karena merekalah yang menjadi garda paling depan dalam membuka pintu wawasan, menyalurkan ilmu dan juga membekali ilmu para anak didik. Jika pendidiknya saja masih di bawah standar maka tentu kualitas dari anak didik atau generasi muda pun patut untuk dipertanyakan, meski kadang kala ada kondisi dimana anak didik mampu belajar secara mandiri, namun mayoritas anak didik mendapatkan pengetahuan atau ilmu dari para pendidiknya. Tentu kualitas para guru disini menjadi sangat penting urgent dan tidak main-main.

Jadi sesuatu hal yang wajar bila Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan program UKG ini, yang notabene bertujuan meningkatkan kualitas dan kinerja para guru di Indonesia, tentu tujuan akhir dari program ini adalah demi peningkatan kualitas pendidikan di negara kita. Jika program ini dinilai sebagai sesuatu yang masih baru oleh para guru, ya memang programnya baru tetapi sebenarnya substansinya bukan hal yang baru. Karena sudah seharusnya para guru akrab dengan program-progam pengujian atau evaluasi atau sejenisnya, karena sudah seharusnya pula para guru tanpa harus ada program serentak yang diadakan secara resmi seperti UKG, para guru harus sudah secara otomatis/mandiri dan secara naluriah, secara rutin selalu berupaya meingkatkan kemampuannya. Sehingga ketika dihadapkan oleh program-program yang bertujuan demi peningkatan kualitas dan kinerja akan menjadi hal yang tidak asing lagi karena telah menjadi suatu kebiasaan dan juga merupakan suatu kesadaran.

Jika dikatakan program UKG masih baru dan terdapat kebelumsiapan disana sini, ya mungkin memang ini adalah program baru untuk mengevaluasi kualitas dan kinerja guru, jadi wajar bila masih terdapat kekurangan baik dalam hal teknis dan nonteknis. Namun tentu saja dari pihak penyelenggara tidak lantas berdiam dan menerima pemakluman ini begitu saja. Pihak penyelenggara (disini sudah tau siapa) pun harus terus mengevaluasi pelaksanaan program ini, menelaah kembali dimana titik-titik kelemahan dan kekurangannya dan terus berusaha membuatnya menjadi lebih efektif dan efisien.

        Namun dari segi program, memang program ini sangat diperlukan bagi kalangan guru di Indonesia. Meskipun sudah menjadi kewajiban bagi para pendidik untuk terus meningkatkan kualitas dan kinerjanya tetapi tentu masih dibutuhkan versi secara formal dan resminya dengan suatu penilaian agar jelas tercantum dan diketahui sejauh mana pemetaan kualitas pendidik di Indonesia. Cara seperti ini masih perlu dilakukan di dunia pendidikan kita karena tingkat kesadaran guru untuk meningkatkan kualitas dan kinerjanya masih tergolong rendah di negara kita. Memang tidak semuanya seperti itu namun bisa dikatakanmasih banyak yg memiliki kesadaran rendah. Jadi program ini dapat dijadikan sebagai suatu pengontrol atau penstimulus dan motivator bagi para guru untuk terus maju.

 Tentang kurangnya informasi dan lain sebagainya memang dari kedua belah pihak yaitu Kemendikbud dan para guru harus saling memahami dan terus bekerja beriringan. Tentu kerjasama antara Kemendikbud dan para guru sangat penting, saling mendukung demi tujuan akhir untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Boleh saja memberikan kritik dan saran, namun yang membangun bukannya malah mencela atau mencari titik salahnya saja dan menjadikan sebagai suatu senjata untuk menolak program yang bertujuan demi kebaikan bersama. Dan juga harus diingat bahwa jangan sampai guru hanya merasa senang dan konsentrasi penuh ketika mengusahakan tunjangan sertifikasi namun ketika dihadapkan pada kondisi evaluasi merasa enggan.        

Menjadi guru sudah seharusnya terus belajar dan tidak berhenti karena telah puas menjadi pengajar. Namun justru harus disadari bahwa menjadi guru memiliki tugas yang tidak ringan, dan selalu sadar diri bahwa lingkungan dan zaman selalu berubah dan begitu juga dengan kebutuhan murid yang tidak lagi bisa disamakan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika guru hanya bersikap apatis dan pasif, tidak berkarya, tidak belajar, tidak menjalin networking di era pendidikan sekarang ini, tentu tidak akan survive dan tertinggal. Mengingat tugas yang diemban guru sangatlah penting maka guru harus terus memahami serta menyadari peran dan fungsinya tadi, sehingga dengan kesadaran terus meningkatkan diri tentu program seperti UKG atau lainnya tidak akan dihadapi dengan carut marut namun dapat diterima secara lumrah karena telah terbiasa.

        Di satu sisi guru telah menerima haknya yaitu mendapatkan rasa hormat dari masyarakat, murid atau juga telah menerima haknya berupa gaji dan tunjangan maka begitu pula dalam melaksanakan kewajiban haruslah seimbang, kewajiban guru salah satunya pasti meningkatkan kualitas dan kinerjanya demi baktinya terhadap bangsa ini. Ketika sudah menjalankan konsep hak dan kewajiban ini secara seimbang maka tentu tak perlu lagi protes-protes dan alasan-alasan disana sini. Hak dan kewajiban, serta kesadaran dari semua elemen (baik Kemendikbud maupun para guru) tentang fungsi masing-masing dalam mencerdaskan bangsa maka akan saling mengisi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Toh tujuan dan muaranya sama, yaitu terwujudya generasi dan masyarakat Indonesia yang cerdas.

        Nah, yang tertera di atas adalah pendapat saya, semoga ada nilai positif yang dapat diambil dan jika ada pendapat saya yang kurang berkenan semoga ke depan bisa lebih dewasa dalam menulis. Terima Kasih

Seberapa banyak kah stok mentalmu?

8 Okt

Seberapa banyak kah stok mental yang kita miliki? 10 Kg kah? 1 Kw kah? atau malah 1 Ton kah? hhh… saja juga ragu apakah mental itu dapat dihitung beratnya atau tidak,

Yang jelas di posting kali ini saya ingin berbagi motivasi yang semoga dapat membuat kita menjadi lebih kuat ya lebih memperkuat mental kita. Ketika kita memasuki usia dewasa awal yaitu sekitar usia 20 atau 21 tahun kita pasti mendapati banyak hal yang berbeda dari hal yang biasa kita hadapi ketika kita masih berada di kisaran usia 15 tahun atau usia remaja seperti 18 tahun.

Tentu ada banyak hal yang akan kita hadapi dan lebih kompleks pula, ada yang termasuk masalah lama dalam versi yang lebih baru tetapi ada pula yang merupakan masalah yang benar-benar baru. Tentu cara kita menyikapi masalah pun sudah tidak sama seperti ketika kita masih anak ABG atau remaja. Namanya juga dewasa awal pasti kita sedang belajar untuk menjadi lebih dewasa, uhm tapi kita diingatkan bahwa menjadi tua itu pasti dan menjadi dewasa itu pilihan. Jadi belum tentu dikatakan dewasa meskipun usia semakin bertambah, nah tentang menjadi dewasa itu sendiri tak luput dari yang namanya belajar dan berbenah.

Iya, belajar dan berbenah adalah hal yang penting dalam “kedewasaan“, dengan belajar dari berbagai hal baik masalah, pengalaman atau kesalahan maka akan menambah bobot dari kualitas diri kita, tapi tentu kuncinya adalah tetap mau belajar bukan belajar yang melulu diartikan sebagai belajar di kelas atau mata pelajaran tetapi lebih luas dari itu. Dimulai  dari keinginan untuk tetap mau belajar inilah yang akan terus memupuk kedewasaan kita, dan dilengkapi lagi dengan berbenah, iya ketika kita telah mau belajar lalu kita mau membenahi dimanakah titik lemah kita, dimanakah kekurangan kita apa yang harus kita perbaiki. Inilah yang akan membuat kita semakin dewasa, jadi berdasarkan pengalaman yang lalu kita belajar, lalu jika ditemui lagi di masa sekarang atau ke depannya kita belajar dari pengalaman itu dan mau berbenah. Begitulah intinya.

Nah, terkadang di usia awal dewasa ini ada banyak hal yang menguji diri kita, hal-hal yang tadinya tidak biasa datang pada kita kini mulai berdatangan, yang jelas adalah pasti ada perubahan. Nah, perubahan itu sendiri terkadang ada yang menyenangkan tetapi banyak juga yang membuat kita menjadi termenung dan mengernyitkan dahi dan mengusap dada lalu bergumam.. “kenapa ini berat sekali?” atau “ini terlalu sulit ?” dan masih banyak lagi. Sebenarnya terhadap  perubahan baik yang bersifat positif atau negatif  kita harus selalu siap dan menyiapkan diri. Karena salah satu hal yang pasti dalam hidup kita adalah “PERUBAHAN“.

Salah satu perubahan yang akan kita temui ketika kita memasuki usia dewasa awal adalah perubahan masalah-masalah yang bervariasi yang silih ganti berdatangan dan cara menyikapinya. Untuk menghadapi perubahan-perubahan itu dimana bahkan ke depan akan semakin sulit dan berat, seberapa banyakkah stok mental yang kita miliki? Karena dalam dunia orang dewasa :

Tidak semua yang kita harapkan selalu terpenuhi,

Tidak semua orang yang kita temui seramah yang kita harapkan,

Tidak semua orang setulus yang kita kira,

Tidak semua teman yang kita temui sesetia yang kita harapkan,

Tidak semua orang yang kita temui memiliki toleransi sebaik yang kita harapkan,

Tidak semua hal mudah untuk ditaklukkan seperti yang kita bayangkan,

Tidak semua mimpi selalu berjalan mulus sesuai impian ketika kita terbangun,

Tidak semua rencana berjalan selancar rencana awal,

Tidak semua  orang akan membalas senyum ramah kita,

Tidak semua orang  mau mendengarkan apa yang kita ucap dan sarankan,

Tidak semua orang mau menjadi sesabar yang kita harapkan,

Tidak semua niat baik kita diterima begitu saja oleh orang lain…

Dan tentu masih ada banyak lagi tentang “Tidak semua akan …. “

Ada banyak sekali hal-hal di dunia orang dewasa yang kita pikir semakin asing dan menjauh dari rumus di dunia anak-anak. Disitulah kita perlu tahu dan lebih mempersiapkan diri bahwa tantangan yang ada di depan kita belum tentu semudah dan semulus yang kita harapkan, dan mental yang kuat adalah salah satu bekal yang perlu kita persiapkan. Agar kita tak mudah kecewa ketika apa yang kita harapkan tak selalu semujur yang kita impikan, agar kita tak langsung tertunduk lesu dan menyerah ketika menemui hambatan yang lebih sulit, agar kita mampu bangkit kembali meski ketika ada banyak sekali ujian, dan agar kita mampu tetap menjadi kuat dan tegar tapi masih memiliki hati nurani yang lembut dan tersentuh dan bukan menjadi kuat namun justru mengeras dan membatu.

Jadi, selalu siapkan mental kita, tambah kekuatannya dan entah itu akan mejadi 10 kg kah, 100 kw kah atau 10 ton kah… dan berapapunkah … :)

Sebuah inspirasi yang datang dari my beloved daddy …

Thanks for reading ^_^

Disini, ada kisah Nam dan juga Lee Gyu Won !!

12 Sep

Yang sedang terjadi ini mungkin sama seperti kata2 yg tertahan di rongga rongga mulut Nam dan juga Lee Gyu Woen, seperti banyak kata yang ingin diucapkan Nam pada Phi Shone, dan seperti kehendak yang ingin diungkapkan Lee Gyu Woen pada Lee Shin, sungguh tak jauh berbeda dari apa yang tertohok di rongga rongga mulut mereka yang hampir meledak karna tertahan oleh ribuan kali pertimbangan, terbendung pula oleh sesuatu yang sering dipikirkan sebagai ketidakpantasan untuk diungkapkan, namun tak bisa dipungkirkan bahwa yang terbendung itu semakin menggunung semakin menumpuk dan hampir termuntahkan biar keluar dan tidak memenuhi antrian kata-kata lain yang juga berebut untuk keluar dari mulut, hampir termuntahkan semuanya, namun lagi-lagi tak bisa dimuntahkan karna terbentur sebuah ego atau entah itu pemikiran dan hal lain yang masih dalam satu varian dari pertimbangan.
Lalu, jika telah menggunung ingin muntap dan tak tertahan tapi tak kunjung juga keluar, apa yang terjadi? akhirnya diputuskanlah saja yang ingin keluar tadi untuk ditelan kembali, padahal sungguh bukan rasa yang mengenakkan, sesuatu yg hampir keluar dari bibir, tinggal merancang saja sedangkan stok pemikiran sudah lama terancang sudah lama dan banyak sekali stok yang dirancang, apa susahnya untuk berucap tinggal menggerakkan lidah, membuka mulut dan mengeluarkan suara !
Tidak, masalahnya tak semudah itu, bahkan yang hampir muntap tadi masih digendoli oleh kata “takut” … hhhhh… sambil tersenyum kecut dan memang mengatakan pada diri sendiri “pengecut”, baiklah telanlah saja sendiri semua gumpalan-gumpalan kata yang siap meluncur tadi dan simpan sendiri, entah mau diletakkan di bagian mana dari organ ini, mungkin akan mengendap di memori atau kantung hati? entah .. yang jelas orang ini ternyata memiliki keinginan yang sama seperti yang dirasa oleh Nam dan juga Lee Gyu Woen, namun ternyata masih tak bisa berperan sama seperti yang dilakukan Nam atau Gyu Woen. Bahkan sekarang yang ada di lembaran ini adalah sebuah klise, di antara putih dan hitam, yaitu ketidakjelasan yang disebut putih abu-abu …
padahal cukup sederhana, yaitu sebuah kehendak yang sama untuk menggapai sebuah meteor seperti yang dituju Nam dan Lee Gyu Woen, yaitu bentuk dan versi lain dari Phi Shone dan Lee Shin..
Baiklah akan dirancang segera untuk menyelesaikan peran ini ….